Laporkan Jika Ada Link Mati!
Koleksi Buku

Joseph Sang Mualaf

“BRAKKK”, terdengar bunyi yang sangat keras sekali. Aku tersentak, dan tersadar. Entah bunyi apa itu. Mata ini, tak bisa melihat apapun disekitar karena kain hitam penutup kepala masih terpasang. Kakiku tak bisa bergerak, karena terikat dengan kaki kursi tempat duduk. Dan tangan ini, terikat erat di belakang punggung.

“Hey siapa kamu! Cepat buka ikatanku ini” aku coba berteriak kepada mereka Dan saat itupula “Auch” perutku dipukul dengan benda tumpul.

“Diam kamu pembelot” terdengar suara keras ditelingaku

Aku merasa sangat kenal dengan suara itu, “Bernard, iya benar itu suara Bernard!” bisikku lirih dalam hati. “aku tahu kamu Bernard! Bernard aku mengenali suaramu khasmu itu” kataku keras.

Terdengar suara tawa keras “hahhaha” setelah tertawa dia mengatakan “kamu, Joseph. Kamu sudah tahu siapa aku! Dan aku sudah tahu siapa kamu!” setelah itu tawa itu muncul kembali dengan berlalu pergi.

Ruangan ini menjadi sepi, tapi aku masih mendengar ada suara nafas seseorang yang tersengal-sengal dan terasa sangat berat sekali.

“Ternyata kamu, Joseph!” suara itu juga aku kenal, itu adalah suara Antoni salah satu temanku.

“Kamu Antoni bukan? Kenapa kamu menyiksa aku seperti ini, Antoni? Padahal kamu salah satu murid yang aku segani, kita tidak pernah bermusuhankan?” saat itu aku memang benar-benar kalut.

“Joseph, aku tidak menyiksa kamu. Bahkan aku juga termasuk yang disiksa, Joseph. Lihatlah aku, yang terikat dengan kantung kepala hitam, serta kaki yang menyatu dengan kaki kursi dan tangan yang terikat di punggung kursi!” ucap Antoni dengan nada suara yang tersengal dan terlihat sangat kesakitan.

“Hem, jadi nasib kita sama Antoni!” ucapku lirih

Antoni tidak mengucapkan sepakatah kata pun kecuali hanya bunyi nafasnya mendesah terlihat pasrah.

“ktok…ktok…ktok” terdengar bunyi sepatu yang mendekat. “Hem, dua pembelot sudah berkumpul”

Suara itu juga aku kenali “Daniel”, ucapku dalam hati.

Saat itu, Daniel berteriak keras kepada Antoni. “inikah, yang kalian katakan kebenaran. Ini kah, yang kalian yakini tentang Tuhan kalian. Mana kasih sayang Tuhan kalian saat ini. Mana pertolongan Tuhan kalian!” ucap Daniel bagaikan menantang. Dan saat itu tawa Daniel menggema keras memekakan telinga ini.

Kerasnya ucapan Daniel, membuat Antoni pun berucap keras “ini adalah keyakinku, Islam adalah agamaku. Allah adalah Tuhanku. Dan Muhammad adalah pembawa berita gembiraku. Allah telah menolongku, dengan memberikan cobaan keimanan. Yaitu, dengan siksa yang kalian berikan. Karena aku tahu, siksa yang berat di akhirat itu untuk kalian!”.

Saat Antoni mengucapkan kata-katanya, ada sebuah semangat baru buatku. Kekuatan untuk terus bertahan menjadi timbul. Tetapi sebenarnya aku kaget sakali, ternyata seorang Antoni yang biasanya semangat dalam mengajarkan misi kesesatan juga telah memeluk agama Islam. Saat itupula, terdengar suara “BUKKK….GBUKKK” yang bertubi-tubi. Dan suara Antoni, terdengar sangat serak dengan teriakan yang memilukan. Daniel tertawa puas, sambil meninggalkan kami berdua.

Saat akan pergi, Daniel mengatakan “tunggu gilaranmu, Joseph!”.

Aku hanya terdiam, mematung pada saat Daniel pergi meninggalkan kami berdua. Terdiamku bukan takut karena ancaman Daniel, tetapi diamku lebih didasari karena mengetahui Antoni ikut agama Islam. Sungguh benar-benar diluar dugaan.

Download

Goosebumps #3 Monster Blood

Wagner lebih mirip gudang daripada toko. Ada lantai dengan rak pada langit-langit di kedua dinding, penuh dengan kotak-kotak mainan, dan banyak meja panjang etalase melalui pusat toko, gang keluar sempit yang bahkan orang sekurus Evan harus memaksakan diri melaluinya.

Pada bagian depan toko, merosot di bangku tinggi di belakang kasir kayu model kuno duduk seorang pria yang tampak kesal dengan seberkas rambut putih tunggal di tengah kepala merah botak. Dia punya kumis putih terkulai yang tampak berkerut pada Evan dan Andy saat mereka masuk.

"Hai," kata Andy takut-takut, melambai ke pria itu.

Dia menjawab dengan dengusan dan kembali ke koran yang sedang dibacanya.

Trigger mengendus rak bawah penuh semangat. Evan memandang berkeliling pada tumpukan mainan itu. Dari lapisan tebal debunya, mainan-mainan itu tampaknya telah berada di sana seratus tahun. Semuanya tampaknya saling berdesakan, boneka-boneka di sebelah perlengkapan bangunan, peralatan seni bercampur dengan gambar-gambar aksi lama yang Evan bahkan tak mengetahui, satu set drum mainan dibawah tumpukan bola.

Hanya dia dan Andy pelanggan di toko itu.

"Apakah mereka punya game Nintendo ?" tanya Evan, berbisik, takut untuk memecah keheningan yang tenang.

" Aku tak berpikir begitu," bisik Andy kembali. "Aku akan bertanya."

Dia berteriak ke depan, "Apakah Anda punya game Nintendo?"

Butuh beberapa saat bagi pria untuk menjawab. Dia menggaruk telinganya. "Tak punya," gerutunya akhirnya, terdengar jengkel oleh gangguan.

Andy dan Evan menggeluyur ke bagian belakang toko.

"Mengapa kau suka tempat ini?" bisik Evan, mengambil sebuah pistol tua dengan sarung pistol koboi.

"Aku hanya berpikir itu sangat bagus," jawab Andy. "Kau bisa menemukan beberapa harta karun yang sebenarnya di sini. Ini tak seperti toko mainan lainnya.."

"Itu pasti," kata Evan sinis. "Hei - lihat"

Dia mengambil satu kotak makan siang dengan seorang koboi berbaju hitam yang dihiasi pada sisinya.

"Hopalong Cassidy," bacanya. "Siapa Hopalong Cassidy?"

"Seorang koboi dengan satu nama bodoh," kata Andy, mengambil kotak makan siang tua itu darinya dan memeriksanya. "Lihat -. Itu terbuat dari logam, bukan plastik. Mengherankan kalau sepupuku akan menyukainya. Dia suka nama yang bodoh juga.."

"Ini hadiah yang cukup aneh," kata Evan.

"Dia adalah sepupu sangat aneh," seru Andy. "Hei, lihat ini." Dia meletakkan kotak makan siang tua itu dan mengambil sebuah kotak besar. "Ini satu set (peralatan) sulap." Kejutkan teman-teman Anda. Lakukan seratus trik menakjubkan," bacanya.

"Itu trik yang banyak menakjubkan," kata Evan.

Dia berjalan kembali lebih jauh ke toko bercahaya suram itu, Trigger memimpin jalan, mengendus marah.

"Hei -" Evan terkejut, satu pintu yang sempit menuju ke ruang belakang kecil.

Ruangan ini, Evan lihat, bahkan lebih gelap dan berdebu. Melangkah ke dalam, ia melihat boneka-boneka binatang yang kelihatan usang dilemparkan ke kardus, permainan yang memudar, kotak-kotak yang menguning, sarung tangan bisbol dengan hiasan tipis kulit dan pecah.

Siapa yang mau sampah ini? pikirnya.

Dia akan pergi ketika sesuatu menarik perhatiannya. Satu kaleng berwarna biru, seukuran kaleng sup. Dia mengangkatnya, terkejut dengan betapa berat itu.

Mendekatkannya ke wajahnya untuk memeriksanya dalam cahaya redup, ia membaca label pudar:

DARAH MONSTER. 

Download


Goosebumps #4 Bergaya Sebelum Mati

Tiba-tiba seekor anjing spanil melompat keluar dari semak- semak, sambil menyalak-nyalak penuh rasa ingin tahu. Shari berhenti dan mengelus-elus anjing itu. Anjing itu menjilat-jilat tangan Shari sambil mengibas-ngibaskan ekornya, lalu ia kembali menghilang ke balik semak-semak.

Keempat anak itu meneruskan perjalanan mereka, saling berusaha menjatuhkan yang lain dari pinggiran trotoar. Mereka menyeberang jalan dan terus melewati sekolah. Di halaman sekolah, dua anak laki-laki sedang bermain basket, dan beberapa anak yang lebih kecil bermain sepak bola di lapangan bisbol. Tak seorang pun mereka kenal.

Setelah melewati sekolah, jalanan yang mereka ikuti agak menikung, melalui rumah-rumah yang sangat mereka kenal. Tidak jauh dari sana, selepas daerah yang ditumbuhi banyak pohon, mereka berhenti di depan halaman sebuah rumah yang tak terurus. Rumput di pekarangan sudah berminggu-minggu tidak dipotong. Semak-semak tumbuh tinggi.

Di atas halaman depan yang melandai naik dari jalanan, hampir tersembunyi di balik sebuah pohon ek besar, berdiri sebuah rumah besar yang sudah bobrok. Rumah itu dulunya sebuah rumah megah.

Bertingkat tiga, dengan serambi di sekeliling rumah, atap miring berwarna merah, dan dua cerobong asap. Tapi jendela-jendela yang pecah di lantai dua, lapisan tembok yang retak-retak, genteng yang melorot turun, menunjukkan bahwa rumah tersebut sudah lama sekali tak terurus.

Semua orang di Pitts Landing menyebut rumah itu sebagai "rumah Coffman". Nama Coffman tertulis di kotak surat yang tergantung miring di atas tiang yang sudah bengkok, di depan jalan masuk ke halaman rumah.

Rumah besar itu sudah tidak ditinggali lagi sejak bertahun- tahun. Sejauh ingatan Greg dan teman-temannya, rumah itu tak pernah dihuni.

Banyak sekali cerita seram tentang rumah itu; cerita-cerita hantu, cerita mengenai pembunuhan, dan banyak lagi hal mengerikan yang katanya terjadi di rumah itu. Kemungkinan besar, semua itu hanya khayalan yang tidak berdasarkan kenyataan.

"Hei, aku tahu apa yang bisa kita kerjakan kalau ingin sesuatu yang seru," kata Michael sambil menatap rumah yang gelap terselubung bayang-bayang itu.

"Huh? Apa maksudmu?" tanya Greg hati-hati.

"Kita masuk ke rumah Coffman," kata Michael. Ia sudah mulai melangkah ke halaman yang ditumbuhi semak-semak tersebut.

"Hei. Gila kau!" Greg memanggil sambil mengejarnya. "Ayo kita masuk," kata Michael lagi. Mata birunya memantulkan cahaya matahari sore yang menembus dari celah-celah daun pohon ek. "Kita kan ingin petualangan, sesuatu yang seru, ya tidak? Ayo kita lihat ke dalam."

Greg ragu-ragu. Ia memandang ke arah rumah itu. Tengkuknya terasa merinding.

Sebelum ia bisa menjawab, sesuatu melompat dari kegelapan di balik semak-semak, dan menyerangnya!


Haruskah Kita Percaya Tritunggal?

Ini adalah buku terjemahan dari buku berbahasa Inggris, "Should You Believe In The Trinity?"

SELAMA bertahun-tahun ada banyak tentangan atas dasar Alkitab terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian ini, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.

Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church : “Konstantin seperti bapanya, menyembah matahari yang tidak tertaklukan, pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin. …. Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen. “

Peranan apa yang dimainkan oleh kaisar yang tidak di baptis ini di Konsili Nicea? Enclyclopaedia Britannica menceritakan ; “ Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan, rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ‘ dari satu zat dengan Bapa ‘ karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati. “

Karena itu, peran Konstantin penting sekali. Setelah dua bulan debat agama yang sengit, politikus kafir ini campur tangan dan mengambil keputusan demi kentungan mereka yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi mengapa? Pasti bukan karena apapun dari Alkitab. “ Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani “, kata A Short History of Christian Doctrine. Yang ia tahu adalah, bahwa perpecahan agama merupakan ancaman bagi kekuasaannya, dan ia ingin memperluas wilayah kekuasaannya.

Namun, tidak seorang uskup pun di Nicea mengusulkan suatu Tritunggal. Mereka hanya memutuskan sifat dari Yesus, tetapi bukan peranan Roh Kudus. Jika suatu Tritunggal merupakan kebenaran Alkitab yang jelas., tidakkah mereka seharusnya mengusulkannya pada waktu itu?

Download


Ali Topan Wartawan Jalanan

Ketika memasuki Pasar Kaget, Ali Topan melihat lelaki berbaret RPKAD bersama seorang cewek cakep lagi makan sate Madura di suatu meja. Lelaki itu adalah yang ia lihat di kios buah si Jaim di Pasar Melawai. Orang itu melihat pula ke arah Ali Topan. Mereka saling nremandang.

"Mau makan apa kau, Pan?" tanya Munir.

"Martabak aje," kata Ali Topan.

Mereka pun berjalan ke martabak di ujung selatan lorong Pasar Kaget. Ketemu surman dan Tresno, pengamen Pasar Kaget yang sedang menyanyikan lagu Groovy Kind of Love di kios nasi uduk tersenyum melihat Ali Topan. Ali Topan melambaikan tangan ke mereka. surman main gitar, Tresno main biola. Sambil makan mereka bicara singkat.

"Ini hari pertama gue melepaskan diri dari orang tua gue," kata Ali Topan. "Gue menanggung beban diri sendiri" lanjutnya.

"Jadi sudah pas niat kau?" tanya Munir.

Ali Topan mengangguk. Matanya menatap Munir yang bicara serius.

"Kau sudah hitung untung ruginya?"

"Sudah!"

"Lebih banyak untung apa rugi, kau pikir?"

"Wah, belum tau dong!"

"Nah, nah! Kau mesti tau itu! Kau musti hitung setiap langkah yang kau ambil. Harus ada rencana!" kata Munir. "Sekarang kau punya rencana apa?" sambungnya.

"Mau kerja!"

"Kerja apaan?"

"Apa saja, asal bisa hidup!" kata Topan, bersemangat.

Munir tersenyum, sinis.

"Kau mau jadi maling atau tukang pungut puntung rokok?" kata Munir, tandas.

Ali Topan sampai kaget mendengamya. "Kok gitu lu nanyanye, Nir?"

"Makanye, jangan bilang kerja apa aja! Tukang pungut puntung rokok pun bisa hidup, tau kau? Tapi apa mau begitu? Aku cuma mau kasih pandangan saja sama kau karena aku sejak dulu simpati sama kau. Aku pun dulu minggat dari rumah bapak tiriku di Medan, persoalannya tak usah kau tau. Pokoknya, sekali kau pergi dari rumah orangtua, jangan kembali dengan tangan kosong. Kau musti punya prinsip, harus sukses! Itu baru namanya anak laki-laki pan! Makanya kau musti pakai ini nih!" kata menunjuk keningnya sendiri.

“Iya” kata Ali Topan, perlahan.

“Nah! Kau pikir kau punya modal apa sekarang?”

Ditanya begitu, Ali Topan blingsatan.

Munir tersenyum.

“Hidup kan perlu modal," katanya.

“Berangkat dari rumah, gue cuma punya duit seribu. Mbok Yem, pembantu rumah ngasih go ceng. ya enem ribu seratus perak. Buat makan dan rokok habis empat ratus perak. Tadi sore gue dapat gopek dari Oji yang dagang kembang, kawan gue. Jadi gue ada modal cash enem ribu dua ratus perak. Sepatu, celana dalem, sama kaos kaki yang ada di badan ini. Itu deh semua modal gue, Nir!" kata ali topan.

Munir ketawa mendengar uraian Ali Topan.

“Yang lain ada?" tanyanya sembari ngulum.

Ali Topan berpikir sejenak.

“Itu uang dan barang memang termasuk modal."

“Yah jiwa raga gue deh, Nir... bakal fight!" cetusnya.

Munir bersiut ketika mendengar cetusan itu.

"Nah, itu! Itu yang penting! Jiwa dan raga dipakai buat untuk fight. Bertempur, Pan! Itu berarti kau siap! Banyak orang justru tak menyadari modal yang dimiliki itu! Gue seneng dengar omongan kau itu, Pan!" ucap Munir.
Ali Topan


Dua Sahara

Novel Dua Sahara: Romansa Giza hingga Thursina bukanlah sebuah novel fiksi tapi kisah nyata petualangan sang penulis selama mengasingkan diri di Mesir. Inilah salah satu faktor yang membuat saya suka terhadap novel ini karena benar-benar menggambarkan realitas kehidupan Mesir dan masyarakatnya dengan gambaran yang sangat objektif. Novel ini mengajak pembaca untuk menjelajahi semua lika-liku kehidupan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) yang tentu saja berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Di awal bab penulis membuka kisah perjalanannya dengan setting Bandara Internasional Abu Dhabi yang mana merupakan tempat transit pesawat yang membawanya ke Mesir. Bagian awal novel ini menceritakan awal kisah penulis ketika berangkat ke Mesir pertama kalinya. Bagaimana kesan pertama saat tiba di Mesir, segala macam cekcok waktu di bandara, pengalaman bertemu dengan seorang TKW di Abu Dhabi dan hal-hal seputar ke-Mesir-an yang bagi penulis, waktu itu, masih terkesan asing.

Di bab-bab selanjutnya kita akan menemukan cerita pengalaman penulis dari sisi traveler-nya seperti jalan-jalan ke piramida, sungai Nil, bukit Sinai dan beberapa tempat terkenal di Mesir lainnya (khususnya Cairo). Dengan disisipkan beberapa teks interaksi dengan penduduk lokal. Pokoknya membaca novel ini secara tidak langsung memberikan kita sedikit ilmu bagaimana cara berinteraksi dengan orang Mesir, cara cepat beradaptasi dengan penduduk lokal dan juga menambah wawasan bahasa amiyah. Menariknya penulis menyisipkan foto-foto dokumentasi milik pribadi di dalamnya sehingga gambaran objektif tentang Mesir benar-benar terasa.

 ‘Ala kulli hal, novel ini saya sarankan kepada kalian para calon azhari sebagai sedikit bekal sebelum terbang ke Mesir. In syaa Allah tidak akan ada yang sia-sia ketika kalian membaca novel ini. Bahkan tidak hanya buat calon mahasiswa Al-Azhar, novel ini saya sarankan juga buat kalian yang hobi traveling dan berencana mengunjungi Mesir untuk waktu yang lama. Akhirul kalam, semoga tulisan ini bermanfaat.

Dua Sahara

Dewi Ular [97] - Ada Apa Dengan Setan

Sepuluh sinar kesaktiannya Jin Layon itu saling memercikkari bunga api manakala menyentuh sesuatu yang tak tampak di mata Sandhi. Gelombang energi asing yang menyusup masuk ke wilayah kekuasaan gaibnya Dewi Ular itu agaknya sulit tertangkap mutlak oleh ke sepuluh sinarnya Buron, meski pun sudah terkepung beberapakali ia tetap dapat lolos. Energi gaib asing itu dapat masuk ke wilayah tersebut karena Buron lupa mengaktifkan kembali pagar gaib yang tadi sengaja dimatikan sebentar untuk menerima kedatangan Biggan. Oleh sebab itu, Buron berupaya secepatnya menyingkirkan energi gaib asing itu, sebelum energi tersebut mendapatkan ара yang diinginkannva, seperti misalnya, mencuri bias energi saktinya Kumala Dewi yang malam ini masih berwujud seekor ular berkepala manusia.

“Dia lari ke depan, Buron!” seru Biggan sambil ia sendiri berlari cepat seperti hembusan angin menuju ke halaman depan. Sementara Buron sendiri. justru me lesat ke atas pohon mangga yang ada halaman samping. Ia mencegat gerakan energi tak bersinar itu dari tempatnya bertengger di atas sehelai daun mangga.

“Awas, Rooon...!” seru Biggan dari bawah sana.

Dengan mata gaibnya Buron juga melihat gerakan energi hawa panas itu. Tapi karena kecepatan energi itu sangat luar biasa, sehingga sebelum Buron sempat menghantam dengan tapak saktinya, dia sudah lebih dulu diterjang oleh energi tersebut.

Claaaazz...! Gusssrraak...!

Buron terhempas dikerimbunan pohon mangga. Sebatang dahan berhasil menyangga tubuhnya. Ia segera bangkit dan tersentak kaget melihat sebagian daun mangga menjadi kering dan layu. Ia mencium bau hangus, setelah melirik ke bawah, ternyata kaos yang dipakainya terbakar. Membentuk lubang sisa bakar sebesar piring di bagian dada. Dan Buron segera sadar kalau kulit dadanya pun melepuh akibat terjangan energi panas tanpa bentuk tadi.

“Uuhkk, iiihhhkk...!” Buron menyeringai menahan sakit. Ia segera menyalurkan hawa inti gaibnya dari pusar ke dada. Hawa inti gaib itu meredakan rasa panas yang dirasakan menyengat sekali itu, kemudian ia segera bergerak lagi dengan merubah wujud menjadi cahaya kuning menyerupai meteor kecil.

Bluubh...

Sinar kuning meteor itu membaur dengan kesepuluh sinar orange yang masih bergerak zigzag mengepung energi lawan. Saat itu Biggan berkelebat ke arah halaman depan garasi. Dari sana ia melemparkan sesuatu yang berbentuk seperti bola bekel berwarna putih metal, menyerupai bola kristal. Benda kecil yang dilemparkan ke atas itu melayang tinggi, melebihi batas atap rumah. Ketika bergerak turun benda yang mengkilat itu tiba-tiba membiaskan cahaya biru tipis namun cukup terang.
Cahaya itu adalah pantulan dari cahaya rembulan yang tertangkap oleh benda tersebut. Agaknya benda itu berfungsi sebagai pembias cahaya rembulan dan melipat gandakan tingkat kecerahannya.

Suasana di atas rumah Kumala Dewi menjadi terang tapi tidak menyilaukan. Dalam cahaya terang itulah sinar-sinar orange dari Buron tadi justru redup dan padam, kecuali sinar  kuning jelmaan Buron masih ada. Tapi energi panas yang sedang mereka kejar-kejar itu menjadi tampak seperti bayangan hitam bergerak ke sana-sini. Dengan bantuan cahaya terang dari bola metal yang sekarang diam mengambang di udara, maka siapa pun akan dapat melihat ke mana gerakan bayangan hitam itu.

Sandhi sendiri sempat tercengang kagum melihat kegunaan benda kecilnya Biggan, dan ia menjadi merinding sendiri setelah melihat energi yang menyusup masuk itu berwarna hitam dengan bentuk berubah-ubah. Seperti air hitam di atas daun talas.

“Hantam dia, Roon...!” seru Biggan sambil berkelebat lari ke halaman depan lagi. Dari sana ia me lihat sinar kuning jelmaan Buron bergerak secepat kilat menerjang bayangan hitam. Маkа, terjadilah iedakan yang cukup besar dan keras.

Bleeegggaaaaaarr.!!

Ada Apa Dengan Setan

Goosebumps #2 Jauhi Ruang Bawah Tanah

"Lihat!" seru Margaret, hatinya berdebar. Dia tiba-tiba merasa pusing. Dia mencengkeram sisi lemari untuk menenangkan diri.

"Aku... tak percaya ini.” kata Casey pelan, suaranya gemetar saat ia menatap ke dalam lemari persediaan yang panjang sempit.

Mereka berdua ternganga pada tanaman-tanaman aneh yang memenuhi lemari. Apakah mereka itu tanaman?

Di bawah langit-langit redup bola, mereka membungkuk dan menggeliat, mengerang, bernapas, mendesah. Ranting-ranting bergoyang, daun-daun berkilauan dan bergerak, tanaman tinggi mencondongkan dirinya ke depan seolah-olah menjangkau Margaret dan Casey.

"Lihatlah itu!" Casey berteriak, mengambil langkah mundur, menabrak Margaret. "Ini memiliki lengan!"

"Ohh." Margaret mengikuti pandangan Casey. Casey benar. Tanaman, tinggi berdaun banyak tampaknya memiliki lengan hijau manusia turun dari tangkainya.

Mata Margaret bergerak cepat di sekitar lemari. Untuk rasa takutnya, ia menyadari bahwa beberapa tanaman itu tampaknya memiliki fitur manusia... lengan hijau, tangan kuning dengan tiga jari menyembul dari itu, dua kaki kekar di tempat di mana seharusnya itu batang.

Dia dan adiknya berdua berteriak ketika mereka melihat tanaman dengan wajah. Di dalam sekelompok daun-daun lebar di sana tampak tumbuh tomat hijau yang bulat. Tapi tomat memiliki hidung berbentuk manusia dan mulut terbuka, dari mana ia berulang kali mengucapkan desahan-desahan paling sedih dan erangan-erangan.

Tanaman lainnya, tanaman pendek dengan tandan luas, daun-daun oval, memiliki dua benda hijau, mendekati sebagian wajah manusia yang tersembunyi oleh daun, keduanya meratap melalui mulut terbuka.

"Ayo keluar dari sini!" teriak Casey, menyambar tangan Margaret dalam ketakutan dan menarik-narik menjauh dari lemari. "Ini... kotor!"

Tanaman mengerang dan mendesah. Jari hijau... tangan yang kurang mengulur untuk meraih Margaret dan Casey. Satu tanaman kuning yang tampak sakit di dekat dinding membuat suara tersedak. Satu tanaman tinggi berbunga berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka, sulur tipis seperti lengan terentang.

"Tunggu!" Margaret berteriak, menarik tangannya dari Casey. Dia melihat sesuatu di lantai lemari, di belakang, tanaman mengerang yang bergerak. "Casey... apa itu?" ia bertanya, sambil menunjuk.

Dia bersusah payah untuk memfokuskan matanya dalam cahaya redup dari lemari. Di lantai di belakang tanaman-tanaman itu, di dekat rak di dinding belakang, ada dua kaki manusia.

Margaret melangkah hati-hati ke dalam lemari. Kaki, dia melihat, yang melekat pada kaki. "Margaret... mari kita pergi!" Casey memohon.

"Tidak. Lihat. Ada seseorang di belakang sana.” kata Margaret, menatap tajam.

"Hah?"

"Seseorang. Bukan tanaman..” Kata Margaret. Dia mengambil langkah lain. Sebuah lengan hijau lembut menyapu sisinya.

"Margaret, apa yang kau lakukan?" Tanya Casey, suaranya tinggi dan ketakutan. "Aku harus melihat siapa itu.” kata Margaret.

Dia menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Kemudian, mengabaikan erangan, desahan, lengan hijau menjangkaunya, tomat hijau berwajah menyeramkan, dia nekat melalui tanaman-tanaman itu ke bagian belakang lemari.

"Ayah!" dia berteriak.

Ayahnya sedang berbaring di lantai, tangan dan kakinya diikat erat dengan sulur-sulur tanaman, mulutnya disumpal oleh potongan lebar pita elastis.

Goosebumps #2

Goosebumps #1 Selamat Datang Di Rumah Kematian

RAY THURSTON. 1977-1988

Aku berdiri di sana, menatap huruf dan angka. Aku menatapnya sampai itu tidak masuk akal lagi, sampai jadi kabur abu-abu.

Tiba-tiba, kusadari bahwa Ray telah bergerak pelan di samping batu nisan dan menatapku.

"Ray..." aku berhasil berkata, cahaya bergerak atas nama pada batu. "Ray, yang satu ini... Kau!"

Matanya menyala, menyala seperti bara yang hampir mati.

"Ya, ini aku," katanya pelan, bergerak ke arahku. "Maafkan aku, Amanda."

Aku mundur selangkah, sepatuku tenggelam ke dalam tanah lunak. Udara terasa berat dan tetap. Tak ada yang bersuara. Tak ada yang pindah.

Mati.

Aku dikelilingi oleh kematian, pikirku.

Kemudian, membeku di tempat, tak bisa bernapas, kegelapan berputar-putar di sekitarku, batu-batu nisan berputar dalam bayang-bayang hitam mereka sendiri, aku berpikir: Apa yang akan dilakukannya padaku?

"Ray..." aku berhasil memanggil. Suaraku terdengar samar dan jauh. "Ray, apakah kau benar-benar sudah mati?"

"Maafkan aku. Kau tak seharusnya tahu, belum saatnya," katanya, suaranya rendah dan berat mengambang di udara malam menyesakkan.

"Tapi bagaimana? Maksudku ... Aku tak mengerti?"

Aku memandang melewatinya dengan cahaya putih yang keluar dari senter. Josh beberapa baris jauhnya, hampir ke jalan, masih mencari Petey.

"Petey!" Aku berbisik, rasa takut mencekik tenggorokanku, perutku menyempit ngeri.

"Anjing selalu tahu," kata Ray dengan nada rendah datar. "Anjing selalu mengenali orang mati yang hidup. Itu sebabnya mereka harus pergi dulu. Mereka selalu tahu."

"Maksudmu, Petey mati?" Aku tercekik kata-kata.

Ray mengangguk. "Mereka membunuh anjing terlebih dahulu."

"Tidak!"

Aku menjerit dan mundur selangkah lagi, hampir kehilangan keseimbangan saat aku menabrak nisan marmer rendah. Aku melompat menjauh dari itu.

"Kau tak seharusnya melihat ini," kata Ray, wajahnya yang sempit tanpa ekspresi kecuali matanya yang gelap, yang mengungkapkan kesedihan yang nyata. "Kau tak seharusnya tahu Tidak untuk beberapa minggu lagi."

Goosebumps 1


Cinta Kala Perang

Met malem, semua....

Udah lama ya Admin gak ngepost? Karena agak sibuk dan lagi males nongkrongin laptop aja.

Oh ya, mulai sekarang ke depan, mungkin Admin jarang ngepos lagi E-Book dengan format Digibook, dan akan digantikan dengan Ebook berformat APK yang bisa sobat instal di Handphone Android kamu. Jangan khawatir, bebas virus kok.

Sebagai bahan percobaan, Admin ketengahkan sebuah Novel Islami berjudul "Cinta Kala Perang", kalau kamu suka dengan format E-Booknya silakan komentar di bawah.

NOVEL ini menceritakan kehidup bernama Cut Tari yang dilarang berkomunikasi dengan militer (aparat penjaga keamanan negara).

Bahkan, dia mengharamkan anaknya mencintai tentara. Ibu ringkih ini menghadap Tuhan dengan satu pesan, bahwa Tari harus berdamai dengan keadaan. Tak menaruh dendam pada pembunuh ayahnya.

Setelah ibunya tiada, Tari membulatkan tekad untuk kuliah. Bekerja sambil kuliah pilihan yang tepat untuk menutupi biaya hidup. Dara ini pun melakoni babak baru kehidupan, menjadi mahasiswi di perguruan tinggi negeri. Beruntung Tari diterima bekerja pada lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi kasus-kasus kekerasan yang dialami masyarakat sipil.

Di sinilah Tari bertemu seorang militer (Taufan). Awalnya tak ada desiran aneh di hatinya. Namun, lama-kelamaan cinta itu tumbuh. Percintaan tak biasa. Karena berlangsung saat perang menyalak. Nyawa hilang dari raga saban waktu. Cinta memang tak mengenal usia, waktu, dan lokasi kejadian. Di daerah perang, cinta tumbuh di jiwa. Sayangnya, cinta ini tak kesampaian karena Taufan harus segera meninggalkan medan perang. Kembali ke satuannya di pulau seberang. Meski begitu, cinta kedua hamba Tuhan itu terus melekat. Mereka kembali bertemu di saat Taufan sudah memiliki istri dan seorang anak. Lalu, bagaimanakah nasib  Tari?

Novel ini mengambil sisi lain konflik Aceh terjadi lebih dari 35 tahun. Konflik sebenarnya antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia yang telah sepakat berdamai tahun 2005 lalu. Dalam novel ini kata militer dalam arti sebenarnya disamarkan menjadi pasukan penjaga keamanan negara. Tujuannya untuk menghindari sebutan nama lembaga tertentu pada kisah fiksi. Novel ini berisi pesan moral, bahwa cinta bisa tumbuh di mana saja. Bahwa perjuangan menamatkan kuliah saat perang menyalak butuh perjuangan panjang. Meski, pada situasi tak menentu dan nyawa tak berharga, perjuangan cinta dari mahasiswi miskin terus menyala. Ya, nyala cinta dalam jiwa.

Cinta Kala Perang



Pesantren Impian

Judul      :  Pesantren Impian. 
Penulis   :  Asma Nadia.
Penerbit :  Asma Nadia Publishing.
Tebal      :  300 halaman.

Pesantren Impian sebenarnya novel lama Asma Nadia, tapi baru sekarang di filmkan dan akan diputar serentak di bioskop seluruh tanah air tgl. 3 maret bulan depan. Mungkin saja teman -teman ada yang belum membaca, iseng saya meresensi PI.

Pesantren Impian didirikan oleh Teungku Budiman sebagai penebusan dosa masa lalu yang hitam nan kelam. Terletak di sebuah pulau terpencil, yang bahkan tak tercantum di peta Aceh.

Menyelenggarakan pendidikan gratis setara SD hingga SMA bagi warga sekitar.

Dalam pelaksananya, PI juga merupakan tempat rehabilitasi bagi pemuda dan pemudi yang bermasalah. Mereka diundang secara misterius untuk menetap selama satu tahun. Untuk belajar lebih mendalam tentang agama .Mereka juga datang dengan membawa masalah dari latar belakang yang berbeda.

Ada si gadis, yatim piatu yang bekerja apa saja untuk menampung dan membiayai hidup teman - teman yang senasib. Hingga suatu hari tanpa sengaja, untuk mempertahankan kehormatannya, telah mengakibatkan seseorang meninggal dunia.

Si gadis sedang diburu dan dicari - cari polisi sebagai pembunuh. Menerima undangan ke PI mungkin merupakan jalan untuk menghindar.

Rini, korban pemerkosaan yang hamil dan gagal bunuh diri, padahal kuliahnya sudah di semester akhir. Demi nama baik keluarga, orangtuanya menerima undangan PI untuk Rini menetap di sana.

Eni, polwan yang menyamar, kasus pembunuhan yang sedang diselidiki, di duga pelakunya adalah salah satu dari 15 pemuda dan pemudi yang saat itu datang sebagai undangan untuk merehabilitasi diri.

Ditengah -tengah penyelidikannya, bahkan satu titik terang pun belum diperoleh,  justru telah terjadi lagi pembunuhan secara aneh dan misterius.

Situasi di PI menjadi sangat mencekam, menakutkan dan menegangkan. Semua penghuni menyimpan tanya, menduga -duga, saling curiga, berteka -teki dalam pikiran semasing.

Siapa si gadis?

Siapa pemerkosa Rini?

Dan siapa Umar? Pengacara hebat yang mendampingi Teungku Budiman sebagai penyandang dana Pesantren Impian.

Anda penasaran?


Pesantren Impian



Dewi Ular [1] - Roh Pemburu Cinta

Pramuda segera bergegas dekati mobilnya. Mak Supi hanya sampai di pintu pagar, menunggu perintah selanjutnya. Karena menurut dugaannya, Kumala dan Pramuda akan pergi lagi. Jika benar begitu berarti ia harus membuka pintu pagar yang sudah ditutup sebagian saat mobil masuk tadi.

"Bagaimana?" tanya Pramuda dengan wajah tegang.

"Kita pergi dulu dari sini! Lekas bawa aku pergi ke mana saja!" kata Kumala dengan nada datar, wajahnya tampak tegang.

Pramuda pun segera masuk ke dalam mobil setelah memberi isyarat kepada Mak Supi agar membuka pintu pagar lebar-lebar.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Mala?" tanya Pramuda sambil sibuk memundurkan mobilnya.

"Tidak ada apa-apa. Nanti saja ceritanya." jawab Kumala masih datar.

Pramuda juga tak berani mendesak karena ia tahu keadaan Kumala sedang tegang sekali. Agaknya ada sesuatu yang telah terjadi pada dirinya, sehingga gadis yang mengaku sebagai bidadari Dewi Ular itu merasa harus cepat-cepat menjauhi bahaya yang ada di dalam rumah.

"Mak, kunci pintu dan kau tidur di rumah Pak RT dulu. Ceritakan kejadian ini pada beliau!"

"Baik, Tuan," jawab Mak Supi dengan gugup, lalu Pramuda melesat pergi bersama mobilnya. Padahal Mak Supi sebenarnya ingin ikut, karena ia sangat takut di rumah sendirian. Tapi begitu mendengar perintah untuk ke rumah Ketua RT, Mak Supi sedikit lega karena mendapat tempat aman di rumah Ketua RT nanti.

"Sudah sana, Mak... ke rumah Pak RT saja!"ujar Maryati. "Apa kataku tadi, lapor saja sama Pak RT, kan?"

"Tapi... tapi pintu garasi dan pintu ruang tamu belum kukunci tuh!" Mak Supi tampak bingung, karena ia merasa takut untuk mendekati teras.

"Tinggalkan saja dulu. Biar kuawasi dari sini!" ujar Kasmi. "Nanti kau minta bantuan petugas Hansip untuk mengunci pintu rumah. Sekarang pergilah ke Pak RT dulu."

Namun ketika Maryati ingin menimpali kata-kata Kasmi, tiba-tiba matanya terbelalak kaget, demikian pula Kasmi dan Mak Supi. Mereka memandang ke arah garasi yang masih dalam keadaan terbuka. Dari dalam garasi tampak ada orang yang melangkah setengah berlari keluar. Dan ternyata orang itu adalah Kumala Dewi yang wajahnya penuh keringat.

"Mak Supi... Kemana Tuan Pram dan mobilnya?" seru Kumala sambil melangkah mendekati Mak Supi yang masih di luar pagar. Maryati dan Kasmi lebih mendekat lagi, karena mereka ingin memperjelas penglihatannya, benarkah gadis itu adalah Kumala Dewi yang tadi tampak berada dalam mobil bersamaPramuda.

Ketiga pelayan itu akhirnya saling tertegun bengong memandangi Kumala yang terengah-engah Mak Supi sempat melirik ke bawah, ternyata kedua kaki Kumaia menapak di tanah.

Download

Download


Wanita Dirindu Surga

Diceritakan dari Ali, bahwa ketika Rasulullah menikahkannya dengan Fatimah, beliau mengirimkan pakaian dan bantal dari sabut serta dua piring makan dan dua kendi minum kepadanya. Pada suatu hari, Ali berkata kepada Fatimah, "Demi Allah, aku telah menimba air dari sumur sampai dadaku merasa sakit, sedangkan bapakmu memiliki banyak tawanan perang. Pergilah kepada bapakmu untuk minta seorang pembantu!"

Fatimah berkata, "Demi Allah, aku telah memasak makanan sampai kedua tanganku kasar dan membengkak."

Ia kemudian datang kepada Rasulullah.

Melihat putrinya datang, Rasulullah kemudian bertanya, "Ada apa engkau kemari, wahai Putriku?"

Fatimah menjawab, "Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu."

Fatimah merasa malu untuk mengutarakan maksudnya. Oleh karena itu, ia kemudian kembali ke rumahnya.

Melihat istrinya telah kembali, Ali langsung bertanya, "Apa yang telah engkau katakan pada ayahmu?

Fatimah hanya menjawab, “Aku merasa malu untuk meminta sesuatu kepada beliau."

Maka keduanya kemudian datang ke tempat Rasulullah secara bersama-sama. Ali kemudian berkata kepada Rasulullah, "Demi Allah, wahai Rasul! Aku telah begitu banyak menimba air dari sumur sampai dadaku terasa sakit."

Lalu Fatimah juga berkata, "Demi Allah, aku juga capai memasak sampai tanganku kasar dan membengkak, sementara Allah telah memberikan banyak tawanan dan kelapangan. Maka berikanlah seorang pembantu untuk kami."

Rasul kemudian berkata, "Demi Allah, aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian berdua, sementara aku membiarkan ahlus suffah (sekelompok sahabat yang miskin dan tinggal dipemondokkan dekat masjid nabi serta sibuk dalam ketekunan beribadah)perutnya kelapatan, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk menafkahi mereka. Lebih baik aku menjual para tawanan dan hasilnya aku gunakan untuk menafkahi mereka.”

Akhirnya, mereka berdua kembali dengan tangan kosong.

Rasulullah kemudian mendatangi mereka berdua. Saat itu, mereka berdua sedang berada dalam selimut kecil (jika keduanya menutup kepalanya maka kedua kaki mereka akan terbuka dan jika keduanya menutupi kedua kaki mereka, kepala mereka terbuka). Keduanya kemudian bangkit dengan malu-malu.

Rasulullah kemudian berkata, "Tetaplah dalam posisi kalian berdua. Maukah kalian aku beri kabar tentang sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?"

Keduanya kemudian menjawab "Iya. Kami mau."

Rasul bersabda, Beberapa kalimat yang telah diajarkan Jibril kepadaku, kalian bisa membaca tasbih setiap selesai shalat sebanyak 10 kali, membaca tahmid 10 kali, dan membaca takbir 10 kali. Jika kalian hendak beranjak tidur, hendaknya kalian membaca tasbih sebanyak 33 kali, membaca hamdalah sebanyak 33 kali, serta membaca takbir sebanyak 34 kali."

Ali berkata, "Demi Allah aku tidak pernah meninggalkan amalan ini sejak Rasu mengajarkannya kepadaku." (HR Bukhari dan Muslim)

Pinokio

Pada awalnya Pinokio berpura-pura tak peduli dan bertindak sebaik mungkin, tapi akhirnya karena kehilangan kesabaran dia menantang mereka yang paling keterlaluan mempermainkannya dan berkata pada mereka dengan sangat marah, "Urus diri kalian sendiri! Aku datang kemari bukan untuk menjadi bulan-bulanan kalian. Aku menghormati orang lain dan aku ingin dihormati."

"Hai si mulut besar! Kau telah bicara seperti buku!" teriak para bajingan muda yang kemudian dikuasai tawa dan salah satu dari mereka, yang lebih tidak sopan diantara yang lainnya, mengangkat tangannya bermaksud untuk memegang ujung hidung Pinokio. Tapi dia kalah cepat karena Pinokio mengayunkan kakinya dari bawah meja dan menendang tulang kering bocah itu.

"Aduh, kakinya keras sekali!" erang bocah itu sambil menggosok-gosok memar yang disebabkan oleh tendangan Pinokio.

"Sikutnya bahkan lebih keras dari kakinya!" teriak yang lain yang mendapatkan pukulan di perutnya karena mempermainkan Pinokio dengan kasar.

Tendangan dan pukulan itu membuat Pinokio mendapatkan simpati dan hormat dari seluruh bocah di sekolah. Mereka semua berkawan dengannya dan benar-benar menyukainya. Bahkan kepala sekolah memujinya karena dia sangat penuh perhatian, tekun belajar, dan pandai, selalu datang ke sekolah paling awal dan paling akhir meninggalkan sekolah. Tapi dia membuat satu kesalahan, dia memiliki terlalu banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak nakal yang terkenal malas belajar dan suka melakukan keburukan.

Kepala sekolah menegurnya setiap hari dan Sang Peri juga mengingatkannya berkali-kali, "Hati-hatilah, Pinokio! Teman sekolah yang nakal cepat atau lambat akan membuatmu malas belajar dan mungkin suatu saat membuatmu celaka."

"Tak perlu khawatir akan hal itu!" jawab Pinokio sambil mengangkat bahunya dan menyentuh dahinya seperti berkata, "Aku terlalu pintar untuk membiarkan itu terjadi!"

Pada suatu hari ketika dalam perjalanan ke sekolah, dia bertemu beberapa teman jahatnya yang bertanya, "Sudahkah kau mendengar datangnya berita luar biasa?"

"Belum."

"Di laut dekat sini telah muncul paus sebesar gunung."

"Benarkah? Apakah itu paus yang sama dengan yang muncul ketika Papaku tenggelam?"

"Kami akan pergi ke pantai untuk melihatnya Maukah kau bergabung?"

"Tidak. Aku akan pergi ke sekolah."

"Apa urusannya dengan sekolah? Kita akan pergi ke sekolah besok. Baik kita mendapatkan pelajaran atau tidak kita tetap keledai juga."

"Tapi apa yang akan dikatakan kepala sekolah?" 

"Kepala sekolah boleh berkata apa saja sesukanya. Dia dibayar untuk mengomel sepanjang hari."

"Dan mamaku?"

"Para mama tidak tahu apa-apa, "jawab bocah-bocah kecil nakal itu.

"Kalian tahu apa yang akan kulakukan?" kata Pinokio. "Aku memiliki alasan untuk melihat paus itu, tapi aku akan pergi melihatnya sepulang sekolah saja."

“Keledai malang!” seru salah satu bocah. “Kaupikir paus sebesar itu mau menunggumu? Begitu dia capek berada di sana, dia akan pindah ke tempat lain dan semuanya akan terlambat.”

download

Wiro Sableng (104) Peri Angsa Putih

"Sosok cebol, makhluk apa kau sebenarnya? Siapa dirimu? Apakah kau punya nama?"

Murid Eyang Sinto Gendeng menyeringai. "Kau boleh memanggil saya Si Cebol, Si Kontet atau Si Katai! Suka-sukamulah wahai Peri Angsa Putih...."

Peri cantik itu tertawa lebar mendengar kata-kata Pendekar 212.

"Mendengar tutur bicaramu jelas kau bukan penduduk Latanahsilam, walau kau bicara coba meniru logat orang sini. Pakai wahai segala! Aneh terdengarnya. Apa benar kau berasal dari dunia seribu dua ratus tahun lebih tua dari dunia kami?"

"Saya dan kawan-kawan memang berasal dari dunia lain. Kami kesasar datang ke sini...."

"Bagaimana bisa kesasar?"

"Itu yang masih kami selidiki. Tapi saat ini yang kami inginkan adalah kembali ke dunia kami. Jika tidak mungkin, jika nasib kami harus tetap mendekam di negeri ini maka kami ingin agar sosok kami bisa dibuat sebesar sosok orang-orang yang ada di sini. Kalau tidak bahaya akan selalu mengikuti kemana kami pergi."

"Katamu kau datang kesasar ke negeri ini. Berarti sulit mencari jalan pulang. Untuk memenuhi keinginanmu menjadi sebesar kami, siapa pula yang bisa melakukan nya?"

"Hanya ada satu orang. Hantu Tangan Empat." jawab Wiro.

"Mengapa kau begitu yakin kakek satu itu bisa menolongmu?" tanya Peri Angsa Putih.

"Kami pernah bertemu dengannya di Tanah Jawa...."

"Tanah Jawa? Di mana itu?" tanya Peri Angsa Putih.

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Negeri asai kami. "Sulit bagaimana menerangkannya padamu. Waktu berada di Tanah Jawa, sosok Hantu Tangan Empat sama besarnya dengan sosok tubuh kami. Kalau dia berada di sini tentu sosoknya sama besar dengan orang-orang di sini. Berarti dia punya ilmu membesar dan mengecilkan tubuh...."

"Kau cerdik." kata Peri Angsa Putih seperti memuji.

"Tidak, itu jalan pikiran wajar-wajar saja," jawab Wiro polos. "Peri Angsa Putih, melihat kepada wajahmu yang cantik dan tutur bicaramu yang sopan, saya tahu kau seorang Peri baik hati. Tetapi mengapa kau tidak mau menolong diriku mempertemukan dengan Hantu Tangan Empat?"

"Soalnya aku tidak tahu di mana dia berada."

Wiro tersenyum. "Tadi saya dengar kau berkata tidak mau membawa saya pada kakek itu tanpa ijinnya. Bagi saya berarti kau tahu di mana Hantu Tangan Empat berada. Malah saya menduga kau punya hubungan dekat dengan orang tua itu.... Seingat saya Hantu Tangan Empat hidungnya mancung bagus. Hidungmu juga mancung bagus. Mungkin itu Embanmu atau...."

"Apa itu Emban?" tanya Peri Angsa Putih.

Wiro jadi garuk-garuk kepala lagi.

"Maksud saya mungkin dia kakekmu...."

Peri Angsa Putih kembali tertawa. "Kalau aku tidak mau menolongmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Ya, bagaimana ya? Tapi saya tidak percaya suara mulutmu sama dengan suara hatimu        "

Peri Angsa Putih tersenyum. Makin banyak bicara dengan makhluk di atas telapak tangannya itu makin senang hatinya.

"Makhluk cebol yang tak mau memberitahu nama...."

"Nama saya Wiro. Wiro Sableng." ujar Wiro.

Peri Angsa Putih tertawa cekikikan.

"Ada yang lucu wahai Peri Angsa Putih?"

"Kau tahu apa arti sableng di negeri Latanahsilam ini?" tanya Peri Angsa Putih.
Wiro menggeleng.

"Di Latanahsilam sableng artinya kencing kuda! Hik... hik... hik." Sang Peri tertawa cekikikan.

Asap Itu Masih Mengepul

Rasa-rasanya dia jujur. Yang dituturkannya bukan cerita rekaan. Menurut data dia dilahirkan pada tahun 1959 sedangkan pemberontakan PKI terjadi tahun 1965, Jadi ceritanya masuk akal juga.

Bagaimanapun dia kuminta mengganti nama orangtua yang tertera dalam biodatanya.

Masalah yang menyangkut diri guru itu menjadi rumit dan berlarut-larut diawali dengan datangnya surat kaleng yang kuterima dari seseorang yang menamakan dirinya “wakil masyarakat desa Kalijambe. Dalam surat itu dipersoalkan mengapa seorang anak gembong PKI dapat diangkat menjadi pegawai negeri dan bahkan menjadi guru yang mengajar Pancasila. Andaikata surat kaleng tersebut tanpa disertai tembusan ke instansi lain, antara lain ke Kandep Dikbud, sebenarnya aku tidak perlu melayaninya. Akan tetapi, karena ada tembusan, aku terpaksa melapor ke kandep. Kebetulan waktu aku datang melapor di ruang kerja kakandep ada tamu pengawas. Kepada kedua pejabat itu aku menceritakan secara kronologis kejadian-kejadian yang menyangkut diri anak buahku itu. Ternyata kedua pejabat itu sependapat bahwa kehadiran guru anak tokoh PKI itu telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Karenanya aku diminta membuat laporan tertulis kepada kakanwil, tembusannya dikirim ke kandep. Tentu saja permintaan itu kupenuhi.

Sehari kemudian pengawas datang ke sekolahku. Di buku pembinaan dia menulis catatan, “Sambil menunggu kebijaksanaan kakanwil, Saudara dibebaskan dari tugas mengajar, bisa membantu kegiatan perpustakaan,” Kepadaku Pak Pengawas bercerita bahwa pada masa Orla di kabupaten ini ada dua Ramli yang tergolong PKI kelas kakap. Satu Ramli BTI dan yang lain Ramli PGRI-NV, Ayah anak buahku adalah Ramli BTI.

Sejak kedatangan pengawas ke sekolahku, guru tersebut tidak kuberi jam mengajar. Dia tidak memprotes, patuh saja pada perintahku. Sebagai kepala sekolah aku merasa harus lapor kepada kepala bidang di kanwil. Aneh, atasanku di bidang teknis-edukatif itu tidak sependapat dengan pengawas.

“Yang berdosa terhadap Bangsa dan Negara adalah ayahnya, bukan dia. Mengapa dia harus menanggung dosa ayahnya? Tidak ada dosa keturunan!”

“Akan tetapi, Bapak Kakandep dan Pengawas menilai kehadirannya di sekolah saya tidak diterima oleh masyarakat, menimbulkan keresahan dan kerawanan,”

“Kehendak masyarakat tidak selamanya harus kita turuti,” kata kepala bidang lagi, “Api keributan sudah lama padam. Asapnya sempat melambung tinggi, tetapi asap itu jangan dibiarkan mengepul terus.”

“Kalau begitu saya mohon Bapak sudi membantu saya.”

“Membantu bagaimana?”

“Buatlah sekadar memo yang menyatakan Bapak mengizinkan dia mengajar kembali,” kataku.

Atasanku itu diam. Sesudah berpikir sejenak dia berkata, “Coba temui Bapak Kabag Kepegawaian, Beliau adalah ketua tim skrining,”

Kembali terjadi kejutan. Ketua tim skrining itu ternyata terheran-heran mendengar laporanku. Dia merasa kebobolan, ada anak tokoh PKI bisa diangkat menjadi guru mata pelajaran Pancasila.

“Jelas tidak boleh. Coba Saudara bayangkan, bagaimana dia bisa berbicara tentang pemberontakan G30S. Lidahnya mesti kaku. Kelu. Karena itu, orang semacam itu harus dikantorkan.” kata pejabat itu, “Pulang sajalah, Saudara. Tunggu sampai kami mengambil ke putusan. Untuk sementara dia tidak boleh mengajar.”

Dengan demikian, kepergianku ke Semarang tidak mengubah nasibnya. Anak buahku itu tampak sangat kecewa, Soalnya dia sudah sangat tidak betah jadi petugas perpustakaan.

“Anak-anak sinis terhadap saya, Pak,” katanya pada suatu kesempatan, “Malah sebagian di antara mereka ada yang terang-terangan mengejek saya. Martabat saya di perpustakaan lebih rendah daripada pesuruh. Omongan saya sama sekali tidak mereka hargai.”

Pada kesempatan lain dia menuturkan ketidak enakannya sebagai guru yang dilarang mengajar. “Yang dirugikan bukan cuma saya pribadi,” katanya, “Adik perempuan saya ikut merasakan getahnya. Beberapa waktu yang lalu sudah ada pemuda yang mendekatinya, mau resmi melamar. Begitu mendengar saya dinonaktifkan sebagai guru, pemuda itu mundur. Luka lama kambuh kembali. Masalah ayah sedikit demi sedikit mulai dilupakan orang, tetapi begitu saya terkena hukuman, orang pun kembali membicarakan masa lalu ayah. Saya mohon Bapak bisa merasakan penderitaan kami.”
Aku tidak bisa banyak bicara. Paling-paling menasihatinya agar bersabar dan jangan mudah berputus asa.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa kerjanya sebagai petugas perpustakaan makin hari makin jelek. Aku prihatin sekali sebab pada dasarnya dia memiliki rasa tanggung jawab besar. Kembali aku melapor kepada kepala bidang di Semarang, “Beri dia tugas mengajar, selain Pancasila.” begitu bunyi memo yang kubawa pulang. Keputusan itu membuat hatinya agak lega. Dia kuberi tugas mengajar Tatanegara, mata pelajaran yang juga dikuasainya.

Asap Mengepul
Download

Never Trust A Dead Man

Penduduk desa berhenti, sekitar lima atau enam langkah darinya. Jauhnya kira-kira satu lemparan sekop.

"Melangkahlah ke sini, Nak," kata Linton, keponakan Miller. Selwyn belum tahu maksud perkataan itu.

"Tetap di situ," perintah ayah Selwyn seolah-olah Selwyn tidak mencurigai apa-apa.

"Kami hanya ingin berbicara dengannya," kata Thorne.

"Baik. Bicaralah," kata ayah Selwyn. "Pendengarannya cukup baik."

Thorne menatapnya selama beberapa saat. Lalu ia berkata, "Farold mati. Ia dibunuh di penggilingan tadi malam."

Farold adalah keponakan Derian, tukang penggiling, sepupu Linton. Selwyn terkejut bahwa seseorang telah dibunuh dalam komunitas mereka yang tenang, tapi tidak kaget kalau korbannya Farold. Ia bahkan lega karena Farold yang mati, bukan yang lain. Senang, kalau boleh dikatakan dengan jujur, bahwa jika itu memang harus terjadi pada seseorang, hal itu terjadi pada Farold. Namun dia tahu bahwa dia tidak boleh membiarkan hal semacam itu terlihat pada air mukanya. Ia mencoba memikirkan hal-hal yang baik saja.

Farold tidak seburuk itu sebenarnya, katanya pada diri sendiri. Farold lebih baik dari... Ah, lebih baik daripada duduk di atas paku. Ia juga lebih baik daripada mematahkan gigi karena biji keras persik.
Ayahnya bertanya, "Apa yang menyebabkan kalian berpikir bahwa Selwyn yang melakukannya?"

Ada banyak alasan. Sebenarnya dengan melihat penam pilan mereka, hanya itulah alasan mereka ke sini. Bagaimana mereka bisa berpikir bahwa Selwyn akan membunuh seseorang, bahkan orang yang menjengkelkan dan bertingkah seperti Farold? Tapi Thorne memandang tepat ke arahnya dan bertanya kepadanya, bukan kepada ayahnya, "Kamukah yang melakukannya?"

Selwyn perlu beberapa saat untuk mengeluarkan suara.

"Bukan," katanya. Ia heran karena Thorne yang sudah mengenal dirinya begitu lama dapat bertanya dengan mimik muka yang datar seperti itu.

"Baiklah kalau begini," kata Thorne.

"Hal ini tidak mungkin," pikir Selwyn. Mereka telah ber jalan jauh dari Penryth dan tidak mungkin langsung berbalik kembali hanya dengan keterangan bahwa dirinya tidak bersalah.

"Kami semua di sini kemarin," ayah Selwyn berkata ke- pada mereka. "Tadi malam katamu? Kami semua disini kami berempat, sepanjang malam. Aku, anak ini, ibunya, dan neneknya. Kami akan bersaksi untuknya."

Hal itu menyebabkan Selwyn menggigil tetapi hal itu ditutupinya dengan gerakan berpura-pura mengibaskan seekor lalat. Lalu ia melipat tangannya di dada dengan sikap agak menantang.

"Baiklah," kata Thorne. "Mari kembali ke desa, jelaskan semuanya kepada Bowden. Kita lihat apakah ada sesuatu yang kau ketahui dan mungkin dapat menolong kami untuk menetapkan siapa yang membunuhnya."

Orang-orang yang ada di belakang Thorne terlihat tidak percaya dan menganggap hal itu tidak rasional.

"Saya kan baru saja menjelaskan pada kalian," kata ayahnya. "Dan ingatlah, ada beberapa orang yang senang kalau Farold mati."

Setelah itu ia memandang tepat ke arah Linton, seperti meminta maaf karena berbicara buruk tentang seseorang yang telah mati di depan sanak saudaranya, atau seperti mengingatkan setiap orang bahwa Linton adalah orang yang diuntungkan dengan kematian Farold karena sekarang ia adalah sanak terdekat yang masih hidup dari penggiling tua yang kaya itu.

Linton meludah ke tanah, tampaknya meludahi mereka

Kata Thorne, "Begini Rowe, biarkan Selwyn ikut dengan kami untuk menerangkannya sendiri. Bowden adalah orang yang rasional. Tapi putrinya menangis terus- menerus..."

Bowden. Ia adalah ayah Anora dan Selwyn tahu kare- na Anoralah ia dituduh. Sepanjang musim panas, ia dan Farold berlomba menarik perhatian dan mendapat kan kasih sayang Anora dan akhirnya Anora memilih Farold.

Dua minggu yang lalu, kedua pemuda itu bertarung di jalan di hadapan semua orang. Atau lebih tepatnya, Selwyn mencoba untuk bertarung dan Farold—yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kuat— berhasil menjatuhkannya secara kasar ke atas onggokan tanah seolah-olah Selwyn berusia kira-kira sepuluh tahun lebih tua, dan lebih seperti hiburan bagi penonton. Jadi sekarang, tampaknya setiap orang berpikir bahwa Selwyn telah memperpanjang pertarungan itu.

"Gadis itu menuduhnya?" tanya ayah Selwyn, karena dia tak pernah berpikir kalau Anora akan bersikap demikian. Selwyn terkejut dengan pikiran itu.

"Tidak," kata Thorne. "Aku sudah katakan, kejadiannya semalam: Tidak ada yang melihat. Derian juga tidak mendengar apa-apa, apalagi dengan suara ributnya kincir air dan keadaannya yang setengah tuli itu. Tampaknya pembunuh memanjat dan masuk lewat jendela. Bi arkan anak ini pergi dan bicara, Rowe. Biar urusannya beres. Kau pikir dengan berlaku seperti ini akan membantu masalah?"

Download

Pendekar Cinta II

Siang hari itu cukup terik, sudah beberapa lama hujan tidak turun mendinginkan bumi. Seorang dara muda dengan dandanan sederhana memasuki warung makan tersebut, langkah kakinya sangat anggun dan tenang. Wajahnya cantik sekali hingga membuat para pelanggan warung makan tersebut menghentikan kegiatan makan mereka. Hampir semuanya memandang ke arah gadis tersebut, mereka sangat kagum melihat kerupawa nan wajah si gadis. Ada yang memandang dengan terang-terangan, mengerling, atau melirik secara diam-diam. Berbagai macam pikiran timbul di kepala mereka, ada yang memiliki pikiran tak senonoh seolah-olah hendak menelanjangi si gadis dengan tatapan mata mereka, ada yang hanya mengagumi saja namun ada juga yang mengkhwatirkan si gadis.

Dengan tenang Cin-Cin (gadis muda itu) berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang terletak di sisi jalan dan memesan beberapa macam sayur dan sepoci teh hangat. Ia sudah terbiasa melihat pandangan pria-pria tadi, sejak turun gunung sudah ratusan kali ia menghadapi tatapan seperti ini. Pada awalnya ia merasa risih dan malu, namun lama kelamaan terbiasa bahkan ia merasa bangga akan kecantikannya. Entah sudah beberapa kali ia menghajar pemuda-pemuda iseng yang berusaha merayu dan menghinanya.

Sambil menunggu pesanannya datang, Cin-Cin meman dang ke arah jalanan. Suasana jalanan itu sangat ramai dengan lalu lalang orang, di sepanjang jalan nampak pedagang-pedagang kecil berjualan di sisi jalan menawarkan bermacam-macam barang dagangan, mulai dari bakmi, buah-buahan, permen, dan lain-lain. Dimana ada keramaian biasanya pengemis pun hadir mengais rezeki. Beberapa pengemis muda tampak berlalu-lalang, mereka mengenakan pakaian pengemis pada umumnya, tapi bagi kaum kang-ouw mereka mengetahui para pengemis tersebut merupakan anggota perkumpulan pengemis terbesar Kay Pang. Pada jaman itu Kay Pang sedang dalam masa puncak keemasannya, anggota Kay Pang sudah mencapai jutaan orang dan tersebar kemana-mana. Tak pelak lagi Kay-Pang adalah perkumpulan terbesar di dunia persilatan.

Saat itu Kay Pang di pimpin oleh Sun-Lokai yang merupakan ketua Kay Pang terlama dalam sejarah perkumpulan Kay Pang. Dalam masa kepemimpinannya pamor Kay Pang meningkat pesat dari perkumpulan yang miskin menjadi perkumpulan yang makmur. Dialah orang yang berhasil menyatukan Kay Pang menjadi satu kesatuan perkumpulan pengemis, tiada yang lain. Kalau dahulu penghasilan utama Kay Pang berasal dari hasil setoran para pengemis yang menjadi anggotanya namun sekarang penghasilan utama Kay Pang berasal dari pungutan-pungutan terhadap toko-toko, warung-warung, penginapan, pedagang-pedagang, hartawan, perusahaan piauw kiok. Pungutan-pungutan tersebut diberikan secara sukarela sebagai imbalan dalam menjaga keamanan usaha mereka. Sejak turut sertanya Kay Pang menjaga keamanan, dunia bawah tanah menjadi teratur, tidak semrawut seperti dahulu, dimana masing-masing pihak menjadi raja kecil dan menguasai sepetak wilayah sebagai sumber rejeki mereka. Tidak jarang timbul bentrokan-bentrokan berdarah memperebutkan wilayah-wilayah makmur dan memusingkan pihak kerajaan. Tapi sejak Kay Pang menguasai dan mengatur dunia bawah tanah, keributan-keributan mereda. Pengatu ran pembagian rejeki dilakukan secara terbuka, masing-masing pihak merasa berterima kasih akan kehadiran Kay Pang dan sebagai wujud terima kasih, mereka mem berikan setoran rutin kepada Kay Pang.

Di samping itu bila kaum kangouw mempunyai sengketa atau membutuhkan informasi tertentu, mereka terlebih dahulu mencari Kay Pang karena mereka tahu anggota Kay-Pang memiliki pengetahuan yang luas dan dapat di percaya. Berita apapun yang hendak di cari, Kay Pang dapat menyediakannya. Tidak heran banyak kaum kangouw yang berlomba-lomba mendekati Kay Pang dan membuat Kay Pang makin makmur. Sedang- kan bagi partai-partai besar lainnya, kalau tidak terpaksa mereka enggan bermusuhan dengan Kay Pang. Semua perselisihan yang timbul yang melibatkan anggota mereka, mereka selesaikan secara damai.

Saat ini pucuk pimpinan Kay Pang dipegang oleh wakil pangcu Kay Pang yaitu Kam-Lokai berusia enam puluh tahunan, sejak dua puluh tahun terakhir pangcu Kay Pang Sun-Lokai menghilang tak ketentuan rimbanya. Sudah belasan tahun semua anggota Kay-pang tidak melihat kehadiran Sun-Lokai hingga praktis pimpinan tertinggi Kay Pang saat ini di pegang oleh Kam-Lokai sebagai wakil pangcu, dibantu oleh beberapa orang tiang-lo dan murid-murid utama mereka.

Seperti yang kita ketahui Kam-Lokai hanya memiliki seorang murid saja yaitu Tiauw-Ki, dia adalah angkatan muda Kay Pang yang paling lihai. Dalam usia semuda ini Tiauw-ki telah di beri kepercayaan memimpin divisi intelijen Kay Pang, suatu divisi yang memiliki tugas menyerapi kabar-kabar terbaru dunia kangouw dan dampaknya terhadap dunia persilatan pada umumnya dan Kay Pang pada khususnya.

Dari divisi inilah kabar bangkitnya kembali Mo Kauw berhasil mereka bongkar dan menyiarkannya ke dunia kang-ouw.

Setiap tahun Kay Pang selalu melakukan pertemuan tahunan di markas besar Kay Pang di Peking yang dihadiri oleh pucuk pimpinan Kay Pang dan para kepala cabang Kay-Pang di seluruh Tiong Goan.

Selain melaporkan situasi dan perkembangan masing- masing wilayah yang mereka pimpin, para kepala cabang Kay Pang ini juga memanfaatkan pertemuan ini untuk saling silaturahmi dengan anggota lainnya hingga pertemuan tingkat tinggi ini biasanya diakhiri dengan mabuk-mabukan sampai pagi.

Download

Pendekar Cinta I

Kedatangan Lie Kun Liong dan Liok Han Ki tepat pada waktunya. Sambil menyabut pedang dari sarungnya Liok Han Ki berteriak, "Perampok dari mana yang berani mati merampas barang di tengah hari bolong!". Lalu ia menyabetkan pedangnya ke arah perampok bercambang lebat.

Sambil mengelak si perampok berkata "Rupanya bocah bau tengik tadi yang berlagak mau jadi pahlawan. Lebih baik segera pulang ke pangkuan ibumu sebelum pedang toyaku ini menembus badanmu!"

Liok Han Ki dengan murka melancarkan serangan secara beruntun. Tanpa belas kasihan ia mencecar si perampok dengan ilmu pedang kebanggaannya.

Dengan susah payah si perampok melayani serangan Liok Han Ki.

"Bocah dari mana asalnya ini, kok ilmu pedangnya sangat lihai?" kata si perampok dalam hati. Ia menangkis sekuat tenaga jurus terakhir yang dilancarkan Liok Han Ki. Gagang pedang ditangannya hampir terlepas dari pegangannya, telapak tangannya terasa sakit. Dengan penuh rasa kaget si perampok melawan sekuat tenaga serangan Liok Han Ki.

Kalau si perampok yang melawan Liok Han Ki terkaget kaget, perampok satunya lagi yang melawan Lie Kun Li ong juga tidak kalah terkejutnya. Setiap serangan pedang Lie Kun Liong hanya dengan susah payah dapat ia punahkan. Ia yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekarang ketemu batunya, bahkan ilmu pedang yang dimainkan Lie Kun Liong tidak dapat ia raba asalnya.

Syukur baginya Lie Kun Liong baru terjun ke dunia kang-ouw sehingga pengalaman bertempurnya masih sedikit dan ragu-ragu untuk meneruskan serangan yang lebih mematikan, kalau tidak sudah dari tadi si perampok berbaju abu-abu itu kalah.

Suatu saat Lie Kun Liong mengincar dan menusuk ke arah pundak kiri si perampok namun dengan tiba-tiba ujung pedangnya membentuk lingkaran dan arah yang di tuju adalah pundak kanan si perampok. Kali ini si perampok tidak dapat berkelit lagi, ia sudah salah mengantisipasi jurus serangan Lie Kun Liong yang awalnya menuju ke pundak sebelah kirinya tapi mendadak di tengah jalan mengincar pundak kanannya. Pedang yang ia pegang di tangan kanannya jatuh ke tanah dan sebelum ia bereaksi lebih lanjut ujung pedang Lie Kun Liong sudah berada di depan tenggorokannya. Dengan rasa jeri dan takjub terlihat jelas di wajah si perampok.

Lie Kun Liong menutuk tiam hiat (jalan darah) si perampok sehingga tidak dapat bergerak. Lalu ia memandang pertempuran antara Liok Han Ki dengan perampok yang lainnya juga hampir selesai. Ia kagum dengan kelihaian ilmu pedang Liok Han Ki, kecepatan dan ketepatan jurus yang dilancarkan Liok Han Ki sangat akurat, hanya mereka yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu pedang yang dapat melakukan gerakan seperti yang barusan diperagakan oleh Liok Han Ki.

Suatu ketika cukup dengan sontekan ujung pedangnya perut si perampok tertembus pedang Liok Han Ki dan si perampok jatuh ke tanah berlumuran darah, nasibnya jauh lebih buruk dari perampok yang melawan Lie Kun Liong. Ternyata Liok Han Ki masih merasa marah deng an perkataan si perampok di warung makan tadi sehingga ia bertindak cukup kejam dengan membunuh si perampok.

Download

Pendekar Cinta III

Dalam serang menyerang ini, kedua pihak sama-sama mengakui kelihaian lawan masing-masing. Beruntung bagi Li Kun Liong sudah menguasai gerakan langkah ajaib yang ia temukan di dalam gua, apabila tidak dia pasti kewalahan melayani jago dari negeri Thian-Tok ini. Aliran ilmu silat Rameshwara berbeda dengan aliran Tiong-goan, banyak gerakan-gerakan yang aneh dan tak terduga hingga Li Kun Liong harus ekstra hati-hati. Ilmu tenaga dalam Rameshwara berasal dari ilmu Yoga, mereka yang telah menguasai ilmu yoga ini dengan sempurna akan memiliki kelenturan tubuh yang hebat, tenaga dalam yang tinggi serta panca indera yang sangat tajam. Ilmu yoga ini memiliki bermacam-macam gerakan tergantung aliran masing-masing, ada yang mudah, ada juga yang sangat sulit dilakukan. Umumnya hanya pertapa-pertapa tingkat tinggi yang dapat mencapai kesempurnaan dalam ilmu yoga ini. Di negeri Thian-Tok sendiri, yoga di pandang sebagai ilmu mandarguna sehingga tidak jarang kesaktian ilmu ini menjadi legenda. Penduduk negeri Thian-tok sangat mempercayai yoga bahkan kabarnya dengan ilmu ini, seseorang dapat melayang di atas permukaan air tanpa peralatan apa pun atau menembus api yang berkobar-kobar tanpa terluka.

Dilain pihak, Rameshwara pertempuran ini benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja tidak dapat mendesak lawan.
Hingga akhirnya terpaksa ia mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu ilmu Ya-hwe-siau-thian (api liar membakar langit). Perlahan-lahan sorot matanya mengeluarkan sinar yang aneh, berusaha memaksa Li Kun Liong saling bertatapan mata.

Pada bentrokan mata tadi, Li Kun Liong sudah mengetahui kelihaian sorot mata Rameshwara hingga dia tentu saja tidak berani bertatapan langsung. Sebisa mungkin matanya tidak bentrok dengan sorot mata Rameshwara, kalaupun terpaksa segera ia mengalihkannya ke lain jurusan. Dengan demikian konsentrasinya jadi terganggu, di satu pihak dia harus melayani serangan-serangan lihai lawan, di lain pihak harus berjaga-jaga terhadap sorot mata lawan. Li Kun Liong semakin kerepotan bahakan suatu saat tanpa disadarinya matanya bertatapan cukup lama dengan mata Rameshwara. Pikirannya langsung seolah-olah berhenti, tidak mau mengikuti lagi bahkan tenaganya pun mandek. Walaupun hanya sedetik saja, tapi dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan semacam ini dapat berakibat fatal.

Diiringi lengkingan panjang Li Kun Liong yang berusaha melepaskan diri dari sorot mata Rameshwara, tahu-tahu merasakan berderaknya tulang pundaknya. Pukulan Rameshwara berhasil mampir dan menghantam pundak kirinya. Syukur tenaga pukulan tersebut telah berkurang banyak, terpengaruh lengkingan Li Kun Liong, kalau tidak tulang pundak Li Kun Liong pasti patah.

Rameshwara sendiri bukannya tidak apa-apa, lengkingan yang dikeluarkan Li Kun Liong merupakan serangan melalui suara, mirip dengan pekikan singa namun jauh lebih dahsyat. Lengkingan tersebut telah menggetar jantung Rameshwara dan membuat kacau pergerakan aliran darahnya. Bagi seorang ahli silat, aliran darah yang kacau dapat membuat dirinya terluka parah apabila tetap melanjutkan pertarungan, apalagi bila lawan yang dihadapi seimbang atau lebih tinggi tenaga dalamnya. Dia harus segera merawat diri dengan melakukan siulan yoga untuk melancarkan aliran darah agar kembali normal.

Menyadari lawan-lawannya kali ini tidak dapat di pandang enteng, sambil memegang pundak kirinya yang sakit dan tidak dapat digerakkannya dengan leluasa, Li Kun Liong untuk ke sekian kalinya harus segera mengambil langkah mundur. Dengan ginkang yang dimilikinya saat ini, tidak susah baginya untuk melarikan diri dari musuh-musuhnya.

Seperti orang yang sial berturut-turut, demikian juga nasib Li Kun Liong. Semaju apa pun ilmu silatnya, tetap saja ia harus mengalami kesialan di keroyok tokoh-tokoh kosen dunia persilatan. Sejak terjun ke sungai telaga, entah sudah berapa kali lipat kemajuan ilmu silatnya bila dibandingkan dengan pertama kali turun gunung. Namun kesialan terus mengikutinya, ia harus mengalami beberapa kali musibah, pengeroyokan, fitnahan dan lain-lain.
 
Support : Berbagi buku gratis | Dilarang mengkomersilkan | Hanya untuk pelestarian buku
Copyright © 2016. Perpustakaan Digital - All Rights Reserved
Published by Mata Malaikat Cyber Book
Proudly powered by Blogger