Laporkan Jika Ada Link Mati!

Suara Dari Alam Ghaib

MALAM itu aku terlonjak bangun dengan sekujur tubuh bersimbah peluh. Kegelapan membuat mataku buta sesaat. Lamat-lamat terdengar suara isak tangis, begitu dekat sehingga beberapa saat aku terpana dalam kegelisahan. Lalu gerak kecil disisiku, mengingatkan aku pada Padmini. Setelah mata kunyalangkan, barulah aku melihat sosok tubuhnya yang terbaring resah. Kedua tangannya mencengkeram selimut kuat-kuat, sementara air mata menderas di pipinya.

Trenyuh, aku bergerak menggapai lampu minyak di atas meja.

Kubesarkan sumbunya, sehingga kegelapan perlahan-lahan menghilang dari kamar kami yang sempit. Padmini membuka matanya lebar-lebar, seperti terkejut oleh perubahan suasana itu. Liar, matanya yang basah jelalatan ke sekeliling kamar.

Manakala pandangan kami bertemu, ia segera mengha-mbur dan memelukku sekuat-kuatnya, seraya berteriak setengah mengigau, "Aku mendengarnya lagi, bang. Aku mendengar suara itu lagi!"

"Mini. Tenanglah," kuusap pundaknya dengan lembut. Pundak yang banjir keringat, seperti halnya pundakku sendiri. Padmini gemetar dengan hebat seraya mengulangi ucapannya tadi seperti orang histeris.

"Begitu mengerikan, bang. Aku...."

"Ya. Ya. Aku tahu, Mini. Aku sendiri juga mendengar. Diamlah. Itu semua cuma mimpi buruk."

Terguncang guncang kepalanya, sebagai protes keras. Lantas, "Tetapi, bang. Suara tangis itu. Tangis bayi. Dan suara-suara bocah tertawa-tawa.... Itu bukan hanya sekedar mimpi!"

Ia benar. Suara-suara itu bukan hanya sekedar mimpi. Karena telah berulangkah kami dengar semenjak datang ke rumah ini. Suara kaki-kaki kecil berlari-larian dalam kegelapan. Suara tawa yang lugu, kemudian berakhir dengan tangis berkepanjangan yang memilukan.

Dua hari yang lalu aku sengaja tidak tidur. Namun suara-suara itu tetap muncul. Ketika lampu kunyalakan, mendadak sontak suara-suara itu lenyap. Tidak ada bocah berlari. Tidak ada tangis yang merengek minta disusui. Dan malam ini, aku demikian cemas dan tergugah oleh kesedihan yang tanpa sebab, manakala suara-suara tangis bayi itu meningkat jadi rengekan lirih, Bapaaa...! bapaa..! Seperti seorang anak yang mengadu kepada ayahnya. Suara bocah yang minta perlindungan.

Padmini mulai tenang. Isaknya mereda.

"Tahu kau dari mana datangnya suara-suara aneh itu Mini?" aku bertanya hati-hati.

Ia mengeluh, ".... dari kamar ayah," sahutnya, dengan tubuh menggigil.

"Biar kuperiksa sebentar...."

"Jangan, bang!"

"Tenanglah. Paling tidak aku ingin tahu perkembangan ayahmu yang sedang sakit itu. Apa kau pikir aku mau bersabar menunggu dukun datang. Tidak, Mini. Sekarang, berbaringlah diam-diam. Okey?"

Download Ebook

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Berbagi buku gratis | Dilarang mengkomersilkan | Hanya untuk pelestarian buku
Copyright © 2016. Perpustakaan Digital - All Rights Reserved
Published by Mata Malaikat Cyber Book
Proudly powered by Blogger